Sabtu, 12 September 2015

Rambu

Dalam Bab 1 pasal 1butir 17 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009, menjelaskan bahwa rambu adalah salah satu dari perlengkapan jalan, berupa lambang, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan diantaranya sebagai peringatan, larangan, perintah atau petunjuk bagi pengguna jalan.

Rambu Larangan
Rambu yang digunakan untuk menyatakan perbuatan yang dilarang dilakukan oleh pemakai jalan. Rambu larangan harus ditempatkan sedekat mungkin pada bagian jalan larangan itu mulai berlaku.

Senin, 20 Juli 2015

Bangunan Hanggar Pesawat

Bangunan Hanggar Pesawat





Hanggar adalah struktur tertutup, tempat dimana pesawat bernaung di dalam sebuah gudang perlindungan berukuran besar. Kata hanggar berasal dari Perancis Tengah yaitu hanghart yang artinya kandang dekat rumah. Kata hanggar diketahui juga berasal dari bahasa Jerman, haimgard yang artinya

Bandara Internasional Soekarno-Hatta


Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta merupakan sebuah bandar udara utama yang melayani penerbangan untuk Jakarta, Indonesia. Bandar udara ini diberi nama sesuai dengan nama dwitunggal tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, yang sekaligus merupakan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama. Bandar udara ini berlokasi di Cengkareng, Tangerang, Banten, dengan kode IATA-nya yaitu CGK.
Bandara ini mulai beroperasi pada tahun 1985, menggantikan Bandar Udara Kemayoran (penerbangan domestik) di Jakarta Pusat, dan Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Bandar Udara Kemayoran telah ditutup, sementara Bandar Udara Halim Perdanakusuma masih beroperasi, melayani penerbangan charter dan militer. Terminal 2 dibuka pada tahun 1992.
Soekarno-Hatta memiliki luas 18 km², memiliki 2 landasan paralel yang dipisahkan oleh 2 taxiway sepanjang 2,4 km. Terdapat dua bangunan terminal utama: Terminal 1 untuk semua penerbangan domestik kecuali penerbangan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional juga domestik oleh Garuda.

Rabu, 15 Juli 2015

Klasifikasi Terminal

Menurut Keputusan Menteri Nomor 31 Tahun 1995 / Nomor 84 Tahun 1999 Terminal Penumpang dibagi menjadi:
Terminal Penumpang Tipe A
  1. Melayani Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP), lintas negara, Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP), Angkutan Kota (AK), dan Angkutan Desa (ADES).
  2. Jumlah kendaraan umum yang beroperasi yaitu 50 - 100 kendaraan/jam.
  3. Terletak di ibukota propinsi, kotamadya atau kabupaten dalam jaringan trayek antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara.
  4. Terletak di jalan arteri dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas IIIA.
  5. Jarak antara dua terminal penumpang tipe A sekurang-kurangnya 20 km di Pulau Jawa, 30 km di Pulau Sumatera dan 50 km di pulau lainnya. Luas lahan yang tersedia sekurang-kurangnya 5 ha untuk terminal di Pulau Jawa dan Sumatera, dan 3 ha di pulau lainnya.
  6. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal, sekurang-kurangnya berjarak 100 meter di Pulau Jawa dan 50 meter di pulau lainnya.
  7. Untuk terminal tipe A di pulau Jawa 100 m dan di pulau lainnya 50 m.

Menentukan Arah Runway

Pesawat Rencana (Aircraft Design)
ATR 72-500 dengan panjang runway yang dibutuhkan 1408 m. 



Fokker 50 (F-50) dengan panjang runway yang dibutuhkan 1356 m.

Selasa, 14 Juli 2015

Pelabuhan Merak Banten

Kondisi Wilayah
Merak adalah sebuah pelabuhan di Kota Cilegon, Banten yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera via perhubungan laut (Selat Sunda). Yang terletak pada koordinat 5 º55’51” LS - 105º 59’43” BT Luas area pelabuhan merak sekitar 150.615 m². Sesuai sertifikat No.10.01.19.05.4.00019. Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial,
Selat Sunda merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di samping itu Banten merupakan jalur penghubung antara Jawa dan Sumatera. Bila dikaitkan posisi geografis dan pemerintahan maka wilayah Banten terutama daerah Tangerang raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan) merupakan wilayah penyangga bagi Jakarta.

Peta Lokasi Pelabuhan Merak dari Jakarta

Sabtu, 20 Juni 2015

Marka Bandara

Marka Bandara adalah suatu tanda yang ditulis atau digambarkan pada jalan di daerah pergerakan pesawat udara dengan maksud untuk memberikan suatu petunjuk, menginformasikan suatu kondisi, dan batas-batas keselamatan penerbangan. Marka di daerah pergerakan pesawat udara dituliskan atau digambarkan pada permukaan landas pacu, landas ancang dan apron. Marka merupakan sesuatu yang berbeda dengan rambu. Secara garis besar perbedaan antara rambu dengan marka adalah, rambu berada di atas jalan, suatu alat perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang, huruf, angka, kalimat dan atau perpaduan di antaranya, yang digunakan untuk memberikan peringatan, larangan, perintah dan petunjuk. Rambu biasanya menggunakan tiang besi sebagai penyangganya. Sedangkan marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas. Dapat disimpulkan marka sebagai tulisan atau garis yang menandai jalan tersebut.

Modulus Elastisitas, Tangen Modulus dan Modulus Geser Baja Ringan

Kekuatan dari elemen yang tertekuk tidak hanya bergantung dari tegangan leleh tetapi juga dari modulus elastisitas (E) dan tangen modulusnya (Et). Modulus elastisitas ditentukan dari kemiringan bagian yang lurus pada kurva tegangan-regangan. Nilai dari E yang ditentukan dalam Standard berkisar dari 200 sampai 207 GPa. Nilai 200 GPa digunakan untuk standard pendesainan. Tangen modulus ditentukan oleh kemiringan dari kurva tegangan-regangan di setiap level tegangan.
Untuk sharp-yielding steel, Et bernilai sama dengan E sampai tegangan leleh tetapi untuk gradually-yielding stress, Et bernilai sama dengan E hanya sampai proportional limit (Fpr). Setelah tegangan melampaui proportional limit, nilai tangen modulus (Et) akan menurun dibandingkan modulus elastisitasnya. Berbagai macam ketentuan mengenai tekuk dalam Standard ditulis untuk gradually yielding steels dengan proportional limit tidak kurang dari 70% dari titik leleh minimum yang ditentukan.

Tegangan Leleh, Kekuatan Tarik dan Kurva Tegangan-Regangan pada Baja Ringan

Baja ringan memiliki perbedaan perilaku bila dibandingkan dengan baja biasa (hot rolled steel). Kurva tegangan regangan pada gambar di bawah ini menunjukan perbandingan perilaku baja biasa dengan baja ringan (cold-formed). Kekuatan batang struktural baja ringan tergantung kepada titik leleh (yield point) atau kekuatan leleh dari baja kecuali pada daerah sambungan atau pada kondisi dimana tekuk lokal elastis atau tekuk global menjadi kondisi kritisnya.
Istilah tegangan leleh (yield stress) mengacu kepada titik leleh maupun kekuatan leleh baja ringan. Kekuatan leleh baja ringan terentang mulai dari 165 MPa sampai 552 Mpa.
Pada baja (hot-rolled) titik leleh menunjukan lekukan yang tajam setelah fase elastis sedangkan pada baja ringan (cold-formed) menunjukan pola yang cenderung naik secara bertahap. Untuk baja hot rolled tegangan leleh didefenisikan sebagai tegangan dimana grafik tegangan–regangan menjadi horizontal seperti pada Gambar 1. Sedangkan pada baja cold form diagram tegangan-regangan melengkung pada daerah sudut (knee) dan tegangan leleh ditentukan dengan menggunakan metode offset maupun metode strain-underload seperti Gambar 2.

Bentuk Tampang Baja Ringan dan Aplikasinya

Batang struktur baja ringan dapat diklasifikasikan dalam dua golongan utama:
  1. Batang profil struktural tunggal.
  2. Bentuk panel dan dek.
Untuk golongan yang pertama beberapa bentuk yang umum dijumpai adalah profil kanal (C-section), profil Z (Z-section), profil I (I-section), profil siku (angle section), profil T (T-section), profil sigma (sigma section) dan profil bulat (Tubular section). Gambar 1 menunjukkan bentuk-bentuk profil baja ringan.

Gambar 1. Beberapa Bentuk Profil Baja Ringan Tunggal (Wei Wen Yu and
Roger A.Laboude)

Material Baja Ringan (Cold Form Steel)


Profil baja ringan (cold form steel) adalah jenis profil baja yang memiliki dimensi ketebalan relatif tipis dengan rasio dimensi lebar setiap elemen profil terhadap tebalnya sangat besar. Karena dimensi ketebalan profil relatif tipis, maka pembentukan profil dapat dilaksanakan menggunakan proses pembentukan dingin (cold forming processes). Di dalam proses ini, profil dibentuk dari pelat atau lembaran baja menjadi bentuk yang diinginkan melalui mesin rol atau mesin tekuk pelat (rolling press atau bending brake machines) pada suhu ruangan. Ketebalan pelat baja yang umumnya digunakan sebagai bahan dasar pembentukan profil biasanya berkisar antara 0.3 mm hingga 6 mm (WW-Yu).
Profil baja ringan sangat berbeda dibanding profil baja konvensional yang dibentuk melalui proses pengerjaan panas (hot formed steel sections). Jenis profil pertama dipengaruhi oleh tegangan sisa tekan yang diakibatkan oleh strain hardening dalam proses pengerjaan dingin sedangkan pada jenis profil kedua, tegangan sisa yang timbul diakibatkan oleh proses pendinginan. Karena rasio dimensi lebar terhadap tebal dinding profil di setiap bagian elemennya sangat besar, maka akibat beban tekan sering kali profil pertama-tama mengalami local buckling sebelum mencapai kekuatan maksimumnya dalam mendukung beban kerja. Bentuk mekanisme kerusakan profil sangat bervariasi tergantung dari jenis pembebanan yang dapat didukung profil sampai mencapai kekuatan maksimumnya.

Jumat, 19 Juni 2015

Karakteristik Baja

Untuk memahami sifat-sifat baja struktural,kiranya perlu dipahami diagram tegangan-regangan. Diagram ini menyajikan beberapa informasi penting tentang baja struktural dalam berbagai tegangan.

Perilaku tegangan regangan (uji tarik) baja
Pengujian kuat tarik spesimen baja dapat dilakukan dengan universal testing machine (UTM). Adapun bentuk spesimen untuk uji tarik dapat dilihat pada Gambar 1. Dengan mesin itu spesimen ditarik dengan gaya yang berubah-ubah,dari nol diperbesar sedikit demi sedikit sampai spesimen putus. Pada saat spesimen ditarik, besar gaya atau tegangan dan perubahan panjang spesimen atau regangan dimonitor terus-menerus.

Gambar 1. Diagram tegangan-regangan baja

Keuletan bahan
Diagram tegangan-regangan normal tipikal yang disajikan pada gambar di bawah ini. memper-lihatkan hubungan antara tegangan dan regangan pada OA linier. Pada fase tersebut pening-katan

Kamis, 18 Juni 2015

Geometri Jalan Rel

Umum
Geometrik jalan rel direncanakan berdasar pada kecepatan rencana serta ukuran-ukuran kereta yang melewatinya dengan memperhatikan faktor keamanan, kenyamanan, ekonomi dan kesertaan dengan lingkungan sekitarnya.

Lebar Sepur
Untuk seluruh kelas jalan rel lebar sepur adalah 1067 mm yang merupakan jarak terkecil antara kedua sisi kepala rel, diukur pada daerah 0-14 mm di bawah permukaan teratas kepala rel.

Lengkung Horizontal
Alinyemen horizontal adalah proyeksi sumbu jalan rel pada bidang horizontal, alinyemen horizontal terdiri dari garis lurus dan lengkungan.

Lengkung Lingkaran
Dua bagian lurus, yang perpanjangnya saling membentuk sudut harus dihubungkan dengan lengkung yang berbentuk lingkaran, dengan atau tanpa lengkung-lengkung peralihan. Untuk berbagai kecepatan rencana, besar jari-jari minimum yang diijinkan adalah seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini.

Konstruksi Jalan Rel

Perencanaan Konstruksi Jalan Rel
Lintas kereta api direncanakan untuk melewatkan berbagai jumlah angkutan barang dan/atau penumpang dalam suatu jangka waktu tertentu. Perencanaan konstruksi jalan rel harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan ekonomis. Secara teknis diartikan konstruksi jalan rel tersebut harus dapat dilalui oleh kendaraan rel dengan aman dengan tingkat kenyamanan tertentu selama umur konstruksinya. Secara eknomis diharapkan agar pembangunan dan pemeliharaan konstruksi tersebut dapat diselenggarakan dengan biaya yang sekecil mungkin dimana masih memungkinkan terjaminnya keamanan dan tingkat kenyamanan. Perencanaan konstruksi jalan rel diperngaruhi oleh jumlah beban, kecepatan maksimum, beban gandar dan pola operasi. Atas dasar ini diadakan klasifikasi jalan rel, sehingga perencanaan dapat dibuat secara tepat guna.

Kecepatan dan Beban Gandar
Kecepatan
Kecepatan Rencana.
Kecepatan rencana adalah kecepatan yang digunakan untuk merencanakan konstruksi jalan rel.

Senin, 15 Juni 2015

Pembebanan Pada Struktur Dermaga

Beban Vertikal
Pembebanan vertikal pada struktur dermaga dapat dikategorikan dalam beban mati dan beban hidup.

Beban Mati
Berat sendiri material yang diperhitungkan dalam perencanaan struktur adalah sebagai berikut:
  1. Air laut 1025 ton/m3
  2. Beton bertulang 2400 ton/m3
  3. Beton bertulang basah 2500 ton/m3
  4. Beton prestressed 2450 ton/m3
  5. Baja 7850 ton/m3
  6. Kayu 1000 ton/m3
  7. Pasir 2000 ton/m3
  8. Aspal 2000 ton/m3
Beban Hidup
Berat-berat ini diperhitungkan sebagai beban mati ataupun beban superimposed dead load (SDL). Beban hidup perencanaan struktur ini adalah merupakan beban uniformly distributed load (UDL), beban roda kendaraan T45 dan beban fasilitas loading / unloading sebagaimana yang diuraikan berikut.

Alur Pelayaran

Alur pelayaran berfungsi untuk mengarahkan kapal-kapal yang akan keluar masuk ke pelabuhan. Alur harus mempunyai kedalaman dan lebar yang cukup bisa dilalui kapal-kapal yang direncanakan akan berlabuh.
Dalam perjalanan masuk ke pelabuhan melalui alur pelayaran, kapal mengurangi kecepatan sampai kemudian berhenti di dermaga. Secara umum ada beberapa daerah yang dilalui selama perjalanan tersebut.
  1. Daerah tempat kapal melempar sauh di luar pelabuhan.
  2. Daerah tempat pendekatan di luar alur masuk
  3. Alur masuk di luar pelabuhan dan kemudian di dalam daerah terlindung (kolam)
  4. Saluran menuju dermaga, apabila berada di daerah daratan
  5. Kolam putar
Alur pelayaran ditandai dengan alat bantu navigasi yang dapat berupa pelampung maupun suar.
Daerah tempat kapal melempar sauh di luar pelabuhan digunakan sebagai tempat penungguan sebelum kapal bisa masuk ke dalam pelabuhan karena dermaga sedang penuh. Daerah ini harus terletak sedekat mungkin dengan alur masuk dan dasar perairan harus merupakan tanah yang mempunyai daya tahanan yang baik untuk menahan jangkar yang lepas.

Sabtu, 06 Juni 2015

Konsep Terminal Bandara

Kosep dasar dari terminal penumpang dapat diklasifikasikan menjadi kategori:

Distribusi Horizontal
Konfigurasi Dermaga/Pier configuration

Penjelasan
  • Hanya sebagai jalur perpanjangan dari terminal ke gerbang atau termasuk bagian bangunan yang dilengkapi tempat istarahat, telepon umum, counter sevice. 
  • Letak pesawat biasanya diatur mengelilingi sumbu dermaga dalam suatu pengaturan sejajar atau tegak lurus. 

Jumat, 05 Juni 2015

Struktur Dermaga

Alternatif Jenis Struktur
Sebagai pertimbangan untuk pemilihan jenis struktur dermaga, dipilih 3 jenis struktur yang umum digunakan, yaitu: Deck On Pile, Sheet Pile dan Caisson.

Deck On Pile
Struktur Deck On Pile menggunakan tiang pancang sebagai pondasi bagi lantai dermaga. Seluruh beban di lantai dermaga (termasuk gaya akibat berthing dan mooring diterima sistem lantai dermaga dan tian pancang tersebut. Di bawah lantai dermaga, kemiringan tanah dibuat sesuai degnan kemiringan alaminya serta dilapisi dengan perkuatan (revetment) untuk mencegah tergerusnya tanah akibat gerakan air yang disebabkan oleh manuver kapal. Untuk menahan gaya lateral yang cukup besar akibat berthing dan mooring kapal, jika diperlukan dapat dilakukan pemasangan tiagn pancang miring.

Dermaga Tipe Deck On Pile

Tipe Dermaga Pelabuhan

Dermaga Quay Wall
Terdiri struktur yang sejajar pantai, berupa tembok yang berdiri di atas pantai, konstruksi sheet pile baja/beton atau caisson beton. Biasanya di lokasi pantai tidak landai yang sering disebut sebagai pelabuhan alam sehingga kedalaman yang diinginkan tidak terlalu jauh dari garis pantai. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan quay wall, yaitu:
  1. Dermaga quay wall adalah dermaga yang dibuat sejajar pantai dan relatif berhimpit dengan pantai (kemiringan pantai curam).
  2. Konstruksi dermaga biasanya dibangun langsung berhimpit dengan areal darat.
  3. Kedalaman perairan cukup memadai dan memungkinkan bagi kapal merapat dekat sisi darat (pantai). Kedalaman perairan tergantung kepada ukuran kapal yang akan berlabuh pada dermaga tersebut.
  4. Kondisi tanah cukup keras
  5. Pasang surut tidak mempengaruhi pada pemilihan tipe struktur tetapi berpengaruh pada detail dimensi struktur yang dibutuhkan.

Selasa, 02 Juni 2015

Wesel

Wesel merupakan penghubung antara dua jalan rel dan berfungsi untuk mengalihkan/ mengantarkan kereta api dari suatu sepur ke sepur yang lain.


Terdapat empat jenis wesel, yaitu:
  1. wesel biasa,
  2. wesel dalan lengkung,
  3. wesel tiga jalan, dan
  4. wesel Inggris.
Wesel biasa terdiri atas sepur lurus dan sepur belok yang membentuk sudut terhadap sepur lurus.

Jalan Kereta Api

Pengertian Kereta Api
Kereta api adalah sarana transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di rel. Kereta api merupakan alat transportasi massal yang umumnya terdiri dari lokomotif (kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan sendiri) dan rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya).
Kereta Api Tenpo Dulu

Kereta Api Modern

Minggu, 31 Mei 2015

Tipe Konfigurasi Landasan Pacu (Runway)

Tipe Konfigurasi Landasan Pacu : (a) Landasan Pacu Tunggal, (b) Landasan Pacu Paralel, 
(c) Landasan Pacu Dua Jalur, (d) Landasan Pacu empat paralel (e) Landasan Pacu yang Berpotongan, (f) Landasan Pacu Berpotongan, (g) Landasan Pacu Berpotongan, (h) Landasan Pacu V-terbuka

Landasan Pacu Tunggal
Konfigurasi ini merupakan konfigurasi yang paling sederhana. Kapasitas landasan pacu jenis ini dalam kondisi VFR berkisar diantara 50 sampai 100 operasi per jam, sedangkan dalam kondisi IFR kapasitasnya berkurang menjadi 50 sampai 70 operasi, tergantung pada komposisi campuran pesawat terbang dan alat-alat bantu navigasi yang tersedia.

Sabtu, 30 Mei 2015

Penambat Rel

Pengertian Penambat
Penambat rel merupakan suatu komponen yang menambatkan rel pada bantalan sedemikian sehingga kedudukan rel menjadi kokoh dan kuat. Kedudukan rel dapat bergeser diakibatkan oleh pergerakan dinamis roda kereta yang bergerak di atas rel. Pergerakan dinamis roda dapat mengakibatkan gaya lateral yang besar. Oleh karena itu, kekuatan penambat sangat diperlukan untuk dapat mengeliminasi gaya ini. Jenis penambat digolongkan berdasarkan karakteristik perkuatan yang dihasilkan dari sistem penambat yang digunakan. Berikut ini dijelaskan faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penggunaan penambat, sejarah penggunaan penambat dan jenis-jenis penambat yang hingga saat ini masih digunakan di Indonesia dan beberapa negara lainnya.

Pertimbangan dalam Penggunaan Penambat
Faktor-Faktor Penggunaan Penambat
Penggunaan jenis penambat ditentukan oleh pertimbangan beberapa faktor-faktor yang dominan berikut ini:
  1. Pengalaman pemakaian, terkait dengan catatan teknis pemakaian.
  2. Besarnya gaya jepit (clamping force) yang dihasilkan oleh penambat.
  3. Besarnya nilai rangkak (creep resistance) yang dihasilkan oleh penambat.
  4. Kemudahan dalam perawatan penambat.

Terminal Bandara

Terminal pada bandar udara terdiri atas terminal keberangkatan (departure terminal) dan terminal kedatangan (arrival terminal) serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya.
Terminal keberangkatan (departure terminal) adalah terminal yang mengatur proses keberangkatan penumpang mulai dari pemesanan tiket penerbangan (seatreservation), pelayanan barang-barang penumpang, dan pengiriman barang melalui jasa transportasi udara.
Terminal kedatangan (arrival terminal) adalah terminal yang mengatur proses kedatangan penumpang pesawat terbang menuju bagian pemeriksaan administratif bandar udara dan fasilitas keluar bandar udara (airport exitfacilities)
Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam perencanaan terminal pada bandar udara/lapangan terbang:
  1. Jumlah penumpang pengguna jasa transportasi udara. Hal ini berpengaruh pada kapasitas penerimaan dan pelayanan penumpang pada terminal bandar udara, seperti perkiraan kebutuhan ruangan pelayanan pada terminal bandar udara (ruang tunggu keberangkatan, front-counteruntuk pemesanan tiket, fasilitas pelayanan barang (baggage claim) dan koridor terminal.
  2. Processing, yaitu suatu fasilitas pada terminal bandar udara yang melayani pemesanan tiket, pengurusan barang-barang penumpang (baggage claim) dan pemeriksaan administratif dokumen kepabeanan (paspor, visa dsb)
  3. Flight interface, yaitu suatu fasilitas pada terminal bandar udara yang mengatur penumpang menuju ke pesawat terbang sesuai dengan tujuan penerbangan maupun untuk proses kedatangan penumpang. Fasilitas yang terdapat pada bagian ini adalah gate (pintu penghubung untuk penumpang menuju ke pesawat terbang yang dilengkapi dengan passengers nose).
Ada 2 macam konsep dalam perencanaan terminal pada bandar udara, yaitu:
Konsep Distribusi Horisontal (Single Level Terminal)
Merupakan konsep pelayanan pada terminal bandar udara dengan pengaturan dan pendistribusian kegiatan proses keberangkatan dan kedatangan penumpang melalui satu tingkat terminal
Konsep distribusi ini terdiri atas:

Jalan


Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.
Jalan khusus adalah jalan yang di bangun oleh instasi, badan usaha. Perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri.
Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.
Tol adalah sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk penggunaan jalan tol.
Penyelenggaraan jalan adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan jalan.
Pengaturan jalan kegiatan perumusan kebijakan perencanaan, penyusunan perencanaan umum, dan penyusunan peraturan perundang-undangan jalan.

Kamis, 28 Mei 2015

Perencanaan Geometrik Runway

Sebelum merencanaan geometrik runway, kita harus tahu karakteristik pesawat rencana yang akan beroperasi di bandara tersebut. Dalam perencanaan geometrik runway kali ini yaitu menggunakan pesawat:

Boeing 737-900 ER


Karakteristik Pesawat 737-900 ER
  1. Kecepatan terbang : 420 knot (780 km/h)
  2. Mesin : 2 mesin turbofan, antara 64,4 kN sampai 117,3 kN per mesin, dan jenis mesinnya adalah CFM International CFM56-7
  3. Jangkauan jelajah : 3200 mil laut (5925 km)
  4. Panjang sayap : 34,3 m (dari ujung sayap kiri ke ujung sayap kanan)
  5. Panjang pesawat : 42,1 m
  6. Tinggi ekor : 12,5 m
  7. Berat saat take off : 85139 kg (maksimum)
  8. Berat saat landing : 71350 kg (maksimum)
  9. Kapasitas : 174 hingga 215 penumpang
  10. ARFL : 2256 m

Sabtu, 02 Mei 2015

Pelabuhan

Pengertian Pelabuhan
Menurut Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 2001 Pasal 1 ayat 1, tentang Kepelabuhanan, pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas - batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.
Menurut Triatmodjo (1992) pelabuhan (port) merupakan suatu daerah perairan yang terlindung dari gelombang dan digunakan sebagai tempat berlabuhnya kapal maupun kendaraan air lainnya yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, barang maupun hewan, reparasi, pengisian bahan bakar dan lain sebagainya yang dilengkapi dengan dermaga tempat menambatkan kapal, kran-kran untuk bongkar muat barang, gudang transito, serta tempat penyimpanan barang dalam waktu yang lebih lama, sementara menunggu penyaluran ke daerah tujuan atau pengapalan selanjutnya.
Selain itu, pelabuhan merupakan pintu gerbang serta pemelancar hubungan antar daerah, pulau bahkan benua maupun antar bangsa yang dapat memajukan daerah belakangnya atau juga dikenal dengan daerah pengaruh. Daerah belakang ini merupakan daerah yang mempunyai hubungan kepentingan ekonomi, sosial, maupun untuk kepentingan pertahanan yang dikenal dengan pangkalan militer angkatan laut.

Jumat, 01 Mei 2015

Runway Bandar Udara

Landasan pacu atau runway adalah jalur perkerasan yang dipergunakan oleh pesawat terbang untuk mendarat (landing) atau lepas landas (take off). Menurut Horonjeff (1994) sistem runway di suatu bandara terdiri dari perkerasan struktur, bahu landasan (shoulder), bantal hembusan (blast pad), dan daerah aman runway (runway and safety area). Panjang runway harus cukup untuk memenuhi persyaratan operasional dari pesawat terbang yang akan menggunakannya. Sedangkan untuk lebar suatu runway tidak boleh kurang dari yang telah ditentukan dengan menggunakan tabel dibawah ini:

Tabel Lebar runway minimum
Catatan:
Jika code number precision approach runway adalah 1 atau 2, maka lebar runway harus tidak kurang dari 30 m.
* Lebar runway dapat dikurangi menjadi 15 m atau 10 m tergantung pada larangan/restriksi yang diberlakukan pada operasional pesawat terbang kecil.
sumber : ICAO – Annex 14 Vol.1 Aerodrome Design and Operations, 2009

Karakteristik Pesawat Terbang

Sebelum merancang pengembangan sebuah lapangan terbang, dibutuhkan pengetahuan karakteristik pesawat terbang secara umum untuk merencanakan prasarananya. Karakteristik pesawat terbang antara lain:
Berat (Weight)
Berat pesawat diperlukan untuk merencanakan tebal perkerasan dan kekuatan landasan pacu.
Ukuran (Size)
Lebar dan panjang pesawat (Fuselag) mempengaruhi dimensi landasan pacu.
Kapasitas Penumpang
Kapasitas penumpang berpengaruh terhadap perhitungan perencanaan kapasitas landasan pacu.
Panjang Landasan Pacu
Berpengaruh terhadap luas tanah yang dibutuhkan suatu bandar udara. Anggapan bahwa makin besar pesawat terbang, makin panjang landasan tidak selalu benar. Bagi pesawat besar, yang sangat menentukan kebutuhan panjang landasan adalah jarak yang akan ditempuh sehingga menentukan berat lepas landas (Take Off Weight). Karakteristik dari beberapa pesawat terbang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Kamis, 02 April 2015

Karakteristik Bandara untuk Airbus A380-800

Tipe Pesawat Terbang
Jenis-jenis pesawat terbang bisa ditinjau dari beberapa hal, yakni:
  1. Ditinjau dari kegunaannya
  2. Ditinjau dari jumlah wing
  3. Ditinjau dari bentuk wing
  4. Ditinjau dari bentuk stabilizer
  5. Ditinjau dari alat pendaratannya
  6. Ditinjau dari jumlah mesin

Karakteristik Pesawat Terbang
Beberapa karakteristik pesawat terbang dan kegunaannya:
  1. Berat : berguna untuk menentukan tebal lapis perkerasan runway, taxiway dan apron
  2. Ukuran : panjang badan dan sayap pesawat terbang mempengaruhi ukuran dan konfigurasi bangunan, terminal dan apron
  3. Kapasitas : kapasitas penumpang sangat penting untuk mendukung fasilitas bangunan terminal
  4. Panjang runways : Panjang runways yang dibutuhkan mempengaruhi luas area pendaratan pada suatu lapangan terbang

Kamis, 12 Februari 2015

Metode Uji Pembebanan (Load Test)

Pengertian
Uji pembebanan (load test) adalah merupakan suatu metode pengujian yang bersifat setengah merusak atau merusak secara keseluruhan komponen-komponen bangunan yang diuji. Pengujian yang dimaksud dapat dilakukan dengan beberapa metode salah satu diantaranya adalah metode uji beban (Load Test).
Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan peraturan bangunan yang ada, yang tujuannya untuk menjamin keselamatan umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian struktur yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan hasil pengamatan.

Alat Uji Pembebanan (Load Test)

Metode Hammer Test

Pengertian
Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak beton. Di samping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah. Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban intact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi, dapat memberikan pengujian ini adalah jenis "Hammer". Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Karena kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat, sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton, misalnya keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan.

Rabu, 11 Februari 2015

Geotekstile

Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak.


Beberapa fungi dari geotekstil yaitu:
  1. untuk perkuatan tanah lunak.
  2. untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.
  3. sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan pelindung.

Geomembrane

Geomembrane berbentuk lembaran yang terbuat dari bahan HDPE (High Density Polyetylene) yang mempunyai tingkat impermeabilitas yang sangat tinggi dan sangat homogen berfungsi sebagai lapis kedap air (impermeable liner), selain mempunyai impermeabilitas yang tinggi kelebihan lain material ini sangat tahan terhadap ultraviolet dan bahan kimia yang berbahaya, membuat lapisan impermeable yang baik guna menghindari tercemarnya air tanah dari limbah yang ditampung kolam, yang kadang
kala tidak cuma air kotor, tetapi juga mengandung limbah berbahaya.
Geomembrane ada beberapa tipe ketebalan yang dalam pemilihannya tergantung dari keadaan lapangan yang memungkinkan atau tidak dan juga jenis dan kadar bahan kimia atau limbah yang akan tampung.
Dalam pelaksanaan konstruksi (installation), geomembrane memerlukan penyambungan dengan alat khusus. Geomembrane ini memerlukan mesin las khusus yakni Extrusion Welder dan Hot Wedge yang nanti dalam pelaksanaannya tim kami yang akan menyediakan.

Pompa Pemadam Kebakaran

Pompa pemadam kebakaran berfungsi memompa air ke seluruh hidran dan springkler melalui pipa-pipa induk atau pipa-pipa tegak sesuai dengan pembagian zone masing-masing (Materi Pemadam Kebakaran dikutip dari: http://konsultanmeonline.wordpress.com). Berdasarkan SNI 03-6570-2001 butir 2.2.2 menjelaskan bahwa penggerak yang dapat diterima untuk pompa pada suatu instalasi tunggal adalah motor listrik, motor diesel, turbin uap, dan kombinasinya.
Berdasarkan peraturan di atas harus disediakan 3 jenis pompa yaitu pompa jockey, pompa elektrik, dan pompa diesel. Pada dasarnya ketiga jenis pompa tersebut memiliki fungsi yang sama yakni menyebarkan air. Namun yang menjadi perbedaan adalah sumber energi penggeraknya terutama untuk pompa elektrik dan pompa diesel. Pompa jockey sendiri selain untuk menyebarkan air berfungsi juga untuk mempertahankan tekanan yang ada di dalam pipa. Penggunaan tiga jenis pompa tersebut bertujuan agar ketika terjadi kerusakan pada salah satu pompa harapannya untuk pompa yang lain bisa mengganti sehingga sistem yang berhubungan dengan pompa tetap bekerja.

Sistem Deteksi dan Alarm Kebakaran

Sistem Detektor
Sistem deteksi dan alarm kebakaran sangat penting untuk bangunan gedung, karena berfungsi sebagai pemberi peringatan pada penghuni bangunan agar segera menyelamatkan diri (Taufan, 2011).

Contoh skema sistem deteksi dan alarm

Selasa, 10 Februari 2015

Sistem Sprinkler Otomatis

Menurut Taufan (2011), sprinkler merupakan pemadam kebakaran yang paling efektif jika dibandingkan dengan sistem yang lain. Oleh karena itu sistem sprinkler sangat penting digunakan pada bangunan gedung. Dalam SNI 03-3989-2000 butir 3.1, disebutkan instalasi sprinkler adalah suatu sistem instalasi pemadam kebakaran yang dipasang secara tetap/permanen di dalam bangunan yang dapat memadamkan kebakaran secara otomatis dengan menyemprotkan air di tempat mula terjadinya kebakaran.


SNI 03-3989-2000 butir 3.12 dan 3.13, menjelaskan bahwa sistem pemasukan pada sistem sprinkler ada dua yaitu susunan pemasukan di tengah dan susunan pemasukan di ujung.

Sistem Hidran

Definisi hidran adalah suatu alat yang dilengkapi dengan slang (fire hose) dan mulut pancar (nozzle) untuk mengalirkan air bertekanan yang digunakan untuk keperluan pemadaman kebakaran. Sistem hidran berkaitan dengan sistem pipa tegak. Pada bangunan tinggi umumnya menggunakan hidran halaman dan hidran bangunan.

Skema sistem hidran

Senin, 09 Februari 2015

Sistem Pipa Tegak

Sistem pipa tegak pada bangunan gedung sangat penting, dikarenakan berfungsi sebagai saluran pasokan air pada saat terjadi kebakaran. Pada SNI 03-1745-2000 butir 3.20, dijelaskan bahwa sistem pipa tegak adalah suatu susunan dari pemipaan yang memasok air ke hidran dan sprinkler dan dalam penyebaran airnya dibantu pompa kebakaran. Dalam sistem pipa tegak terdapat pipa pembagi utama, pipa pembagi, dan pipa cabang, umumnya dalam bidang horizontal yang berfungsi menghubungkan sistem sprinkler dan hidran dengan pipa tegak. Pada Bab 5 butir 5.2.1 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 26/PRT/M/2008, perancangan dan pemasangan sistem pipa tegak harus sesuai dengan SNI 03-1745-2000, atau edisi terbaru, tentang Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak dan Slang untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung.

Sistem Pipa Tegak

Sabtu, 07 Februari 2015

Pengendali Asap

Pengendalian asap sesuai dengan fungsinya yaitu dirancang untuk menghalangi aliran asap ke dalam sarana jalan keluar, tempat berlindung dan lain-lain. Dalam perencanaan pengendali asap ada beberapa kriteria yang disyaratkan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 26/PRT/M/2008 Bab 4 butir 4.9 antara lain:
  1. Dibuat untuk membagi-bagi ruangan dalam rangka membatasi gerakan asap,
  2. Dibuat menerus dari dinding luar ke dinding luar, dari lantai ke lantai atau dari penghalang asap ke pengahalang asap atau kombinasinya,
  3. Penghalang api yang digunakan sebagai pengahalang asap asalkan dapat membatasi gerakan asap, dan 
  4. Pintu penghalang asap harus benar-benar menutupi bukaan pintu, tidak boleh ada celah sedikitpun pada daun pintu, dan bisa menutup sendiri secara otomatis. 
Menurut Juwana (2005:145) untuk dinding penghalang asap harus tahan terhadap api minimal 2 jam dan untuk pintu penghalang asap harus tahan terhadap api minimal 1,5 jam.
Ada beberapa media yang dapat digunakan untuk mengendalikan asap sangat tergantung dari fungsi dan luas bangunan (Juwana, 2005:143), di antaranya:
  1. Saluran ventilasi udara yang merupakan sistem pengendali asap otomatis, sistem ini dapat berupa bagian dari sistem tata udara atau ventilasi dengan peralatan mekanis (exhaust fan atau blower), dan
  2. Sistem penyedotan asap melalui saluran kipas udara di atas bangunan.

Tangga Darurat/Tangga Kebakaran

Bangunan gedung harus disediakan sarana vertikal selain lift, seperti tangga darurat. Dalam Bab 1 butir 69 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 26/PRT/M/2008, tangga kebakaran adalah tangga yang direncanakan khusus untuk penyelamatan bila terjadi kebakaran.

Tangga darurat di luar gedung

Tangga darurat di dalam gedung

Jumat, 06 Februari 2015

Jalan Keluar/Akses Evakuasi

Salah satu syarat keselamatan pada gedung bangunan adalah sarana jalan keluar. Menurut Irawan (2009) penentuan jumlah jalan keluar/akses evakuasi ditentukan sesuai dengan jumlah pintu kebakaran pada setiap lantai. Jumlah jalan keluar yang disyaratkan yaitu dua jalan keluar untuk setiap lantai seperti yang telah dijelaskan dalam Bab 3 butir 2.3 Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Nomor: 10/KPTS/2000.
Perencanaan lokasi jalan keluar ada kriteria yang disyaratkan yaitu jarak tempuh ke eksit harus diukur pada lantai atau permukaan jalan lainnya, syarat jarak tempuh ke eksit dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel Lintasan Bersama, Ujung Buntu, dan Batas Jarak Tempuh

Pintu Keluar/Pintu Kebakaran

Dalam sebuah bangunan harus memiliki pintu keluar/pintu kebakaran yang berfungsi untuk akses evakuasi. Dalam perencanaan pintu keluar ada beberapa kriteria yang disyaratkan untuk digunakan dalam perancangan pada Tabel Jarak Tempuh Keluar tentang lokasi pintu keluar dan jarak maksimal dari pintu keluar ke tempat yang aman di luar bangunan.

Tabel Jarak Tempuh Keluar

Dalam Bab 3 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 26/PRT/M/2008 menjelaskan bahwa pintu

Akses Petugas Pemadam Kebakaran

Di sebuah bangunan gedung sangat perlu disediakan akses petugas pemadam kebakaran, agar petugas pemadam kebakaran dapat langsung atau dengan mudah untuk masuk ke dalam bangunan saat terjadi kebakaran. Dalam Bab 2 butir 2.4 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 26/PRT/M/2008 dan SNI 03-1735-2000 butir 6, menjelaskan bahwa:
  1. Bukaan akses untuk petugas pemadam kebakaran dibuat melalui dinding luar untuk operasi pemadaman dan penyelamatan. Bukaan tersebut harus siap dibuka dari dalam dan luar atau terbuat dari bahan yang mudah dipecahkan, dan senantiasa bebas hambatan selama bangunan dihuni atau dioperasikan.
  2. Ukuran bukaan akses petugas pemadam kebakaran tidak boleh kurang dari 850 mm lebar dan 1000 mm tinggi, dengan tinggi ambang bawah tidak lebih dari 1000 mm dan tinggi ambang atas kurang dari 1800 mm di atas permukaan lantai bagian dalam.
  3. Bukaan akses pemadam kebakaran harus diberi tanda segitiga warna merah dengan ukuran tiap sisi minimum 150 mm dan diletakkan pada sisi luar dan sisi dalam dinding dan diberi tulisan : “AKSES PEMADAM KEBAKARAN – JANGAN DIHALANGI” dengan ukuran tinggi minimal 50 mm. Ketentuan ini tidak dipersyaratkan untuk bangunan gedung hunian rumah tinggal satu atau dua keluarga.

Lapis Perkerasan (Hard Standing) dan Jalur Akses Masuk (Acces Way)

Lapisan perkerasan (hard standing) dan jalur akses masuk (acces way) sangat penting sebagai penunjang dalam sistem proteksi kebakaran pada sebuah bangunan tinggi. Lapisan perkerasan (hard standing) dan jalur akses masuk (acces way) merupakan jalur atau area mobil kebakaran untuk melakukan pemadaman kebakaran. Dalam Bab 2 butir 2.3.4 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 26/PRT/M/2008 dan SNI 03-1735-2000 butir 4.2 menjelaskan bahwa:
  1. Di setiap bagian dari bangunan gedung hunian di mana ketinggian lantai hunian tertinggi diukur dari rata-rata tanah tidak melebihi 10 meter, maka tidak dipersyaratkan adanya lapis perkerasan, kecuali diperlukan area operasional dengan lebar 4 meter sepanjang sisi bangunan gedung tempat bukaan akses diletakkan, asalkan ruangan operasional tersebut dapat dicapai pada jarak 45 meter dari jalur masuk mobil pemadam kebakaran.
  2. Dalam tiap bagian dari bangunan gedung (selain bangunan gedung rumah tinggal satu atau dua keluarga), perkerasan harus ditempatkan sedemikian rupa agar dapat langsung mencapai bukaan akses pemadam kebakaran pada bangunan gedung. Perkerasan tersebut harus dapat mengakomodasi jalan masuk dan manuver mobil pemadam, snorkel, mobil pompa dan mobil tangga dan platform hidrolik.
  3. Pada pembangunan bangunan gedung bukan hunian seperti pabrik dan gudang, harus disediakan jalur akses dan ruang lapis perkerasan yang berdekatan dengan bangunan gedung untuk peralatan pemadam kebakaran. Jalur akses tersebut harus mempunyai lebar minimal 6 m dan posisinya minimal 2 m dari bangunan gedung dan dibuat minimal pada 2 sisi bangunan gedung. Ketentuan jalur masuk harus diperhitungkan berdasarkan volume kubikasi bangunan gedung.

Pencegahan Bahaya Kebakaran


Pencegahan Kebakaran pada suatu gedung karena dapat menimbulkan kerugian berupa:
  1. Korban manusia
  2. Harta benda
  3. Terganggunya proses produksi/jasa
  4. Kerusakan lingkungan
  5. Terganggunya masyarakat
  6. Terganggunya suatu negara

Kamis, 05 Februari 2015

Bendung

Definisi
Bendung adalah suatu bangunan yang melintang pada aliran sungai (palung sungai), yang terbuat dari pasangan batu kali atu bronjong, atau beton, yang berfungsi untuk meniggikan muka air agar dapat dialirkan ke tempat yang diperlukan.

Selasa, 03 Februari 2015

Mesin Perawatan Jalan Rel (MPJR)


MPJR atau Mesin Perawatan Jalan Rel adalah sarana perkeretaapian yang fungsinya untuk merawat jalan rel dari segi apapun. MPJR ini sangat sangat dibutuhkan keberadaannya di dunia perkeretaapian, kalau tidak ada alat ini mungkin sering terjadi kecelakaan seperti roda kereta api keluar rel, dan sebagainya. Oleh karena itu, MPJR pasti ada di setiap negara yang ada transportasi kereta api. MPJR bentuknya berbeda dengan kereta api lainnya. MPJR biasanya berwarna kuning. Fungsi MPJR adalah sebagai berikut:
  1. Memadatkan batu-batu yang ada di bawah bantalan rel
  2. Merapikan batu-batu yang ada di rel
  3. Mengelas rel
  4. Memasang rel
  5. Dan lain-lain
MPJR ada beberapa tipe seperti:
  1. MTT (Multi Tie Tamper) yang fungsinya buat memadatkan batu-batu yang ada dibawah bantalan.

Pemadatan Tanah dengan cara Ledakan (Blasting)

Pemadatan tanah cara ledakan (Blasting) adalah cara yang ekonomis untuk pemadatan lapisan pasir renggang yang cukup tebal (dalam). Prosedur pemadatan pada umumnya adalah:
  1. Pembuatan/pemancang pipa dengan cara getar, jetting, auger boring atau lainnya. Kedalaman pipa sampai sedalam ledakan yang diinginkan.
  2. Pemasangan bahan peledak (dinamit) dalam pipa tersebut.
  3. Pengurangan kembali pipa (backfilling of pipe).
  4. Peledakan bahan dinamit menurut pola ledak dan kekuatan ledak yang direncanakan.
Peledakan akan menghasilkan gelombang getar tekan dan geser yang akan meruntuhkan susunan partikel tanah asli dan membentuk susunan yang lebih padat. Menurut Ivanov, dan pengalaman didapatkan pedoman pemadatan dengan ledakan (samapi kedalaman 20 meter yang terpengaruh) sebagai berikut:
  1. Ukuran ledakan 1 Kg sampai 12 Kg per hulu ledak.
  2. Kedalaman pusat ledakan, pusat ledakan harus tertimbun pada kedalaman > ¼ kali kedalaman total (samapi kedasar lapisan tanah yang ingin dipadatkan) tetapi letak pusat ledakan pada kedalaman ½ samapai ¾ kali kedalaman total lebih umum dilakukan orang.

Pemadatan Tanah dengan cara Vibrocompaction

Pemadatan dengan cara vibrocompaction umumnya hanya efektif untuk tanah bergradasi pasir dan lebih kasar dari pasir.
Cara ini umumnya dilakukan dengan bantuan alat vibrocompaction yang dapat berupa tiang (pancang) berujung terbuka atu tertutup. Tiang tersebut dimasukkan ke dalam tanah dengan digetar. Pada sebagian cara ini, tanah dipadatkan dengn menusuk-nusukan tiang pancangyang bergeratr dalam tanah (tanpa tambahan material pengisi) dan sebagian lagi dengan menambah material pengisi (pasir atau kerikil).


Adapun pada prinsipnya cara vibrocompaction ini dapat dibedakan menjadi beberapa cara berikut.

Sabtu, 31 Januari 2015

Gaya Helicoidal pada Tikungan Sungai

Helicoidal aliran adalah cockscrew (spiral) gerakan yang bertanggung jawab untuk memindahkan air sungai terkikis beban dari luar ke tepi sebuah sungai. Pada belokan sungai, memungkinkan terjadinya gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal pada belokan akan menyebabkan timbulnya arus melintang sungai, dan bersama-sama dengan aliran utama membentuk aliran helicoidal. Aliran helicoidal adalah gerakan spiral air sungai yang menyebabkan terkikisnya sisi luar sungai dan pengendapan pada sisi dalam sungai. Besarnya kecepatan arus melintang berkisar antara 10-15% dari kecepatan pada arah utama aliran dengan cirri bahwa di dekat permukaan, arus melintang bergerak kearah belokan dalam.
Erosi dan endapan sungai karena aliran helicoidal ini menyebabkan terbentuknya liku sungai. Dampak utama akibat aliran helicoidal ini adalah terjadinya serangan pada tebing sungai pada sisi luar belokan, serta pengendapan atau sedimentasi pada dasar sungai di dekat sisi dalam belokan.
Gaya yang bekerja dan skema aliran helicoidal yaitu:

Konstruksi Rel Kereta Api

Jalan rel kereta api (UK: Railway Tracks, US: Railroad Tracks) atau biasa disebut dengan rel kereta api, merupakan prasarana utama dalam perkeretaapian dan menjadi ciri khas moda transportasi kereta api. Ya, karena rangkaian kereta api hanya dapat melintas di atas jalan yang dibuat secara khusus untuknya, yakni rel kereta api. Rel inilah yang memandu rangkaian kereta api bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.
Dalam pengamatan secara awam, kita melihat rel sebagai jalan untuk lewat kereta api yang terdiri atas sepasang batang rel berbahan besi baja yang disusun secara paralel dengan jarak yang konstan (tetap) antara kedua sisinya. Batang rel tersebut ditambat (dikatikan) pada bantalan yang disusun secara melintang terhadap batang rel dengan jarak yang rapat, untuk menjaga agar rel tidak bergeser atau renggang.

Jumat, 30 Januari 2015

Bata Ringan (Hebel)

Pengertian
Bata ringan adalah batu bata yang memiliki berat jenis lebih ringan daripada bata pada umumnya. Bata ringan dikenal ada 2 (dua) jenis: Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC). Keduanya didasarkan pada gagasan yang sama yaitu menambahkan gelembung udara ke dalam mortar akan mengurangi berat beton yang dihasilkan secara drastis. Perbedaan bata ringan AAC dengan CLC dari segi proses pengeringan yaitu AAC mengalami pengeringan dalam oven autoklaf bertekanan tinggi sedangkan bata ringan jenis CLC yang mengalami proses pengeringan alami. CLC sering disebut juga sebagai Non-Autoclaved Aerated Concrete (NAAC).

Admixture Beton SIKA

Admixture beton merupakan bahan/material penting dalam melakukan pekerjaan struktur. SIKA juga memproduksi produk admixture beton atau sering disebut bahan tambahan ini. Produk admixture beton SIKA terdiri dari:
  1. SIKACIM ACCELERATOR: Bahan tambahan untuk menyumbat bocor seketika itu juga. Berguna untuk mempercepat pengeringan/setting mortar serta menambah daya rekat dan kekuatan mortar.
  2. SIKACIM BONDING ADHESIVE: Bahan tambahan untuk mortar. Berguna untuk mempermudah pengerjaan dan meningkatan daya rekat mortar serta mengurangi keropos dan retak.
  3. SIKACIM CONCRETE ADDITIVE: Bahan tambahan untuk mempercepat pengerasan beton dengan pengurangan air tetapi mempermudah pengecoran beton.

Bahan Penguat Beton BETONMIX

Betonmix merupakan bahan campuran tambahan/admixture beton yang berguna untuk meningkatkan kualitas adukan beton, sehingga mempermudah pengerjakan (workability) dan menghasilkan beton dengan mutu yang tinggi. Betonmix dapat mengurangi kebutuhan air tanpa menurunkan slump beton.
Keunggulan dari Betonmix adalah meningkatkan mutu beton, mempercepat pengerasan beton, dan mempermudah pengecoran beton.

Kamis, 29 Januari 2015

GRC (Glassfibre Reinforced Cement)

Pengertian
GRC  (Glassfibre Reinforced Cement) adalah material yang terbuat dari campuran semen dan pasir (agregat halus) yang diperkuat dengan glassfibre alkali resistant.
Secara umum GRC ada 2 macam yaitu GRC panel produksi pabrikan dan GRC cetak. GRC panel produksi pabrikan berupa lembaran dengan ukuran 1.20x2.40 m2. Sedangkan GRC cetak bisa dibentuk sesuai desain yang ada misalnya profilan-profilan, ornamen dekorasi, dan lain-lain.
Aplikasi Material GRC sangat beraneka ragam dalam dunia arsitektur, antara lain panel dinding, profil cetak dekorasi, cover kolom struktur, plafond, partisi, partisi kubikal toilet.
GRC terutama GRC cetak banyak digunakan untuk cover elemen bangunan seperti dinding dan kolom yang terdapat banyak profilan. Setelah dicetak GRC cetak tinggal dipasang pada rangkanya yang biasa berupa besi siku dengan begitu akan lebih mudah dan cepat dalam pelaksanaan pekerjaannya.

Rabu, 28 Januari 2015

Dinding Geser (Shear Wall)

Pengertian Dinding Geser
Sebuah dinding geser atau shear wall merupakan dinding yang dirancang untuk menahan geser, gaya lateral akibat gempa bumi. Banyak bangunan mandat penggunaan dinding geser untuk membuat rumah yang lebih aman dan lebih stabil, dan belajar tentang dinding geser adalah bagian penting dari
pendidikan arsitektur. Arsitek diwajibkan untuk berpikir tentang dinding geser dan fitur-fitur keselamatan lain ketika mereka merancang struktur, sehingga mereka dapat mengakomodasi dinding untuk membuat struktur suara sementara juga estetis menyenangkan.
Ketika dinding geser dibangun, itu dibangun dalam bentuk garis berat menguatkan dan diperkuat panel. Di beberapa daerah, dinding geser yang dikenal sebagai garis dinding bersiap karena alasan ini. Dinding idealnya menghubungkan dua dinding eksterior, dan juga penahan dinding geser lainnya
dalam struktur. Menguatkan dicapai dengan tanda kurung dan logam berat balok kayu atau dukungan yang menjaga dinding geser kuat dan kokoh.
Dinding geser yang efektif adalah baik kaku dan kuat. Kekakuan saja tidak akan cukup, sebagai sesuatu yang kaku, semakin rapuh adalah menjadi; seorang cracker, misalnya, kaku, tapi Anda tidak bisa mengandalkan dalam gempa bumi. Kekuatan sendiri juga tidak cukup, karena benda-benda dapat
sangat kuat, tapi masih sangat memberi. Sebuah kaku, dinding yang kuat, di sisi lain, melawan pasukan lateral sementara memberikan dukungan.

Minggu, 25 Januari 2015

Terminal Penumpang


Pengertian Umum
Terminal merupakan titik dimana penumpang dan barang masuk atau keluar dari sistem jaringan transportasi. Ditinjau dari sistem jaringan transportasi secara keseluruhan, terminal merupakan simpul utama dalam jaringan dimana sekumpulan lintasan rute secara keseluruhan bertemu. Dengan demikian terminal merupakan komponen utama dalam sistem jaringan transportasi jalan yang mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting. Terminal bukan saja merupakan komponen fungsional utama dari sistem, tetapi juga sering merupakan prasarana dimana titik kemacetan mungkin terjadi.
Menurut Undang-Undang Lalu Lintas No. 14 tahun 1992, terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jarinya transportasi.
Yang dimaksud terminal bus sendiri adalah tempat dimana sekumpulan bus mengakhiri dan mengawali lintasan operasionalnya. Dengan mengacu kepada definisi tersebut, maka pada bangunan terminal, penumpang dapat mengakhiri perjalanannya dengan mengganti lintasan bus lainnya. Di lain pihak, bagi pengemudi bus maka bangunan terminal adalah tempat dimana kendaraan dapat beristirahat sejenak, yang selanjutnya dapat digunakan juga kesempatan tersebut untuk perawatan ringan ataupun pengecekan mesin.

Kamis, 15 Januari 2015

Perancah (Scaffolding)

Fungsi Perancah (Scaffolding)
Perancah (scaffolding) adalah merupakan suatu konstruksi pendukung pada suatu pekerjaan sebuah proyek yang tebuat dari rangka besi yang berbentuk khusus buatan pabrik dengan daya dukung tertentu, dimana pada pekerjaan ringan dapat dipakai sebagai penyangga untuk pekerja, pada pekerjaan yang lebih tinggi.
Perancah terdiri dari rangkaian atau komponen yang disusun dengan arah vertikal maupun diarangkai secara horisontal dan dipergunakan untuk keperluan yang bersifat sementara.


Perancah (Scaffolding)

Pada dasarnya perancah berfungsi sebagai:
  1. Landasan untuk pekerja dalam melaksanakan pekerjaan.
  2. Penopang atau penyangga bekisting
Perancah dapat digunakan pada pekerjaan bangunan gedung maupun konstruksi lainnya seperti jembatan, tower maupun konstruksi lainnya.

Senin, 12 Januari 2015

Lampu Bandara

Penerangan Lampu Bandara digunakan di bandara yang memungkinkan pendaratan malam. Dilihat dari udara, lampu landasan membentuk garis besar landasan. Sebuah landasan tertentu mungkin memiliki beberapa atau semua hal berikut:
  1. Runway End Lights Identification (REIL) - searah (menghadap arah pendekatan) atau sepasang Omnidirectional disinkronisasi berkedip lampu dipasang di ambang landasan pacu, satu di setiap sisi.
  2. Lampu Runway end (REL) - masing-masing empat lampu di setiap sisi landasan pacu, lampu ini memanjang sepanjang landasan pacu. Lampu ini menunjukkan hijau ketika dilihat dari pesawat yang mendekati dan merah jika dilihat dari arah sebaliknya.
  3. Runway Side Light (RSL) - lampu ditinggikan warna putih yang sepanjang panjang landasan pacu di kedua sisi. Pada posisi landasan pacu, tepi pencahayaan menjadi kuning diposisi 2.000 kaki (610 m) dari landasan pacu, atau posisi ketiga terakhir dari landasan pacu, mana yang lebih dekat. Taxiway dibedakan oleh yang berbatasan dengan lampu biru, atau dengan memiliki lampu pusat hijau, tergantung pada lebar taxiway, dan kompleksitas pola parkir pesawat.
  4. Runway Centerline Lighting System (RCLS) - lampu tertanam ke permukaan landasan pacu di 50 ft (15 m) interval sepanjang garis tengah landasan pacu. Putih kecuali yang terakhir 900 m (3.000 ft): alternatif putih dan merah untuk berikutnya 600 m (1.969 kaki) dan merah untuk yang terakhir 300 m (984 kaki).